Kekasih

June 8th, 2008 by kacabaca

waktu ktika siang dan malam bertemu
di sudut jalan yang sepi
dan embun menumbuk bumi dengan ikhlas
antara gerimis dan air mata
dan rindu mengajakmu berangkat menyusuri jalan

ada yang sayup-sayup menghampiri
sebuah bayang diantara kabut yang dalam

beraut gelisah dan tertunduk
di tangannya segenggam asa
di matanya rindu yang sama

kemana hari-hari?tanyanya
saat kita sibuk mengejar kupu-kupu terbang tinggi

dan kita meniti jarak yang jauh
apakah engkau kekasih?

yang setia?
yang jikalau pergi akan kembali?

aku dan dia saling bertanya

tak sanggup saling menghampiri

11.35 PM -0806

RIndu dan Dusta

April 24th, 2008 by kacabaca

RIndu dan DUsta

Kulukis rindu di kegelapan kabut, kutimang penantian dalam dekapan
Langkah-langkah kecil sendiri dan hati-hati,
Bimbing aku mengais sisa cahaya diujung malam yang pekat

Apakah hari-hari hanyalah canda, untuk melupakan luka yang ada
Maafkan jika aku berkata, bahwa kita telah saling menyakiti, dengan janji dan kata-kata

Dusta jika aku diam dan tak kukatakan kebenaran perasaanku,
Tapi dusta jua jika tak kucintai keadaan yang sesungguhnya

Maka waktu hanyalah sekumpulan bara yang telah mati

Ada hasrat, kesumat dan juga kepasrahan…

Tinggal yang kuingat sisa-sisa yag baik dari dusta itu

Bahwa ada senyum tulus di jarak yang telah ada
Dan angin yang berbisik bahwa kau telah begitu jauh

Sampai aku tak sanggup membisikkan namamu di dekat dengarmu

Mungkin beginilah perjalanan sesungguhnya sepotong rindu
Bahwa ia tak harus menemukan muara, karena ia tak merasa perlu mencarinya,

200308, Cirebon
10:58 PM

Hidup Bukanlah Sebuah Lomba!

November 7th, 2007 by kacabaca

Sejak pagi sampe menjelang tidur, sabahatku berkirim sms tentang masalah yang sedang dihadapinya, pekerjaan, keluarga, sampai masalah rencana pernikahnnya yang tertunda. Aku sempat terdiam beberapa saat untuk memberi respon yang terbaik untuk menghiburnya. Tapi lamat-lamat, kusadari, bahwa masalahnya adalah bukan masalah-masalah yang sudah dia ceritakan dalam sms2nya.

Masalah yang utama adalah, Ia kehilangan kepercayaan dirinya untuk menghadapi masalah2 itu, dan Ia kehilangan kendali atas keyakinannya.

KUingat-ingat bahwa, betapa akupun sering mengalaminya, apalagi ketika tekanan baik tekanan pekerjaan atau tekanan kehidupan lainnya, kita menjadi panik dan seperti kehilangan horizon untuk kita berjalan dengan tenang.

Hidup bukanlah sebuah lomba, kita menjalani peran kita masing2, bobot peran itu kita sendiri yang menentukan, walau bukan pemeran utama dalam layar lebar, tapi kalau peran itu dijalankan dengan sungguh-sungguh , ga mustahil kita dapat penghargaan sebagai pemeran figuran terbaik!

Kasihan sekali jika diri ini dibebani peran yang tak mampu ia perankan, kasihan sekali tubuh dan jiwa ini, jika kita membencinya padahal hanya kita yang dekat dan peduli padanya.

Hidup bukanlah sebuah lomba, tapi seandainya kita harus bertanding, maka alangkah damai dan indahnya, jika kita menyayangi diri ini dan tidak kehilangan rasa percaya padanya, sehingga kita bisa jadi juara!

I Adore You….

October 29th, 2007 by kacabaca

I Adore  You,
by :DS

 

im maybe not romantic

and maybe not poetic

sometimes im not that fluent

to find those magic words

I wish that I could show you my emotion

How can I give a notion

To use all my attention

To say how deeply I adore you

 

I hope you do forgive me

On moments when im clumsy

The truth is, im uncertain

When we’re about to make love

All my jokes they’ll cover my confusion

Though its not my intention

To tease you with these nonsense

You should know how deeply I adore you

 

Don’t reject me

You could hurt me

Although I seem so silly

But it will hurt me

Im maybe different

As you’ve discovered

But im getting warm inside,

Whenever you are

Near me

Im no longer lonely

Don’t ever leave me

                          Cause I cant stand coldness when you are gone

Awal dari Segala yang Indah

October 29th, 2007 by kacabaca


Setelah
peristiwa mendebarkan di atas shirath berakhir, mereka yang selamat
(semua mukmin) masih harus menjalani satu proses lagi sebelum masuk ke
dalam jannah. Nabi Shallallâhu ‘Alayhi wa Sallam bersabda,



"Orang-orang
mukmin selamat dari neraka, lalu mereka tertahan di satu jembatan
pemisah antara jannah dan neraka, lalu sebagian mereka dibalas atas
kezhaliman yang mereka lakukan kepada sebagian yang lain ketika di
dunia. Hingga ketika mereka sudah dibersihkan dan disucikan, maka
mereka diijinkan untuk masuk ke dalam jannah." (HR. al-Bukhârî)

Wajah-wajah berseri penuh harap berbondong-bondong masuk jannah. Mereka disambut malaikat penjaga dengan ucapan, "Salâmun ‘alaykum bi-mâ shabartum", selamat atas kalian karena telah bersabar.
Mereka masuk dari beberapa pintu. Sesuai dengan unggulan amal mereka di
dunia, dari pintu tersebut ia akan dipanggil. Banyak dalil yang
menyebutkan bahwa pintu jannah tidak hanya satu. Allah berfirman,
"(Yaitu) surga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka." (QS. Shâd: 50)

Delapan Pintu Surga

Nabi menyebutkan ada delapan pintu jannah, salah satunya adalah ar-Rayyân yang diperuntukkan bagi yang konsisten dengan shaumnya. Nabi bersabda,

"Di
jannah ada delapan pintu, ada satu pintu yang disebut dengan ar-Rayyân,
tidak akan memasukinya kecuali orang yang (konsisten dengan) shaum."
(HR. al-Bukhârî)

Adapun
pintu-pintu lain, sesuai dengan unggulan amal mereka. Dari Abu Hurairah
berkata, Rasulullah Shallallâhu ‘Alayhi wa Sallam bersabda,

"Maka
barangsiapa termasuk ahli shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat,
barangsiapa yang termasuk ahli jihad, maka akan dipanggil dari pintu
jihad, barangsiapa yang ahli sedekah, ia akan dipanggil dari pintu
sedekah. Dan barangsiapa yang termasuk ahli shaum, akan dipanggil dari
pintu ar-Rayyân." (HR. al-Bukhârî)

Mendengar keterangan dari Nabi tersebut, Abu Bakar tak kuasa memendam rasa penasarannya. Beliau bertanya,
"Demi Allah tak seorangpun rugi dari pintu manapun mereka dipanggil,
lalu adakah orang yang dipanggil dari seluruh, pintu wahai Rasulullah?"
Beliau menjawab, "Ya, saya berharap bahwa engkau adalah salah satunya."

Subhânallâh,
harapan dari Nabi itu tentu bukan sekedar harapan seperti tatkala kita
berharap. Harapan itu adalah bisyârah (kabar gembira) bagi Abu Bakar,
bahwa memang beliau layak mendapatkannya. Bagaimana tidak? Beliau bukan
saja orang yang khusyu’ shalatnya, gemar berderma, tak pernah
ketinggalan setiap event jihad, konsisten dengan shaum wajib bahkan
sunnahnya. Tapi lebih dari itu, beliau selalu menjadi orang terdepan
dalam amal shalih.

Kenyataan itu diakui oleh para sahabat utama, termasuk Umar bin Khaththab. Beliau berkata, "Demi Allah, tiadalah aku berlomba dalam setiap kebaikan melainkan aku mendapatkan Abu Bakar telah mendahului saya."

Suatu pagi, Nabi duduk-duduk bersama para sahabatnya lalu bertanya, "Siapa di antara kalian yang hari ini shaum?" Abu Bakar menjawab, "Saya." Nabi bertanya lagi, "Siapa yang pagi ini sudah mengantar jenazah?" Abu Bakar menjawab, "Saya." Nabi bertanya lagi, "Siapa yang hari ini sudah memberi makan orang miskin?" Lagi-lagi Abu Bakar menjawab, "Saya." Nabi bertanya lagi, "Siapakah di antara kalian yang sudah menengok orang sakit hari ini?" Kembali Abu Bakar menjawab, "Saya." Hingga Nabi bersabda, "Tiada semua itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia akan masuk jannah." (HR Muslim)

Jika
seseorang dipanggil dari semua pintu, jelas ini menunjukkan
keutamaannya. Bukan indikasi dia akan kebingungan menentukan pilihan.
Karena tidak ada orang yang bingung tatkala memasuki jannah, tidak ada
yang bingung arah yang mesti dituju untuk sampai ke rumah yang telah
disediakan untuknya. Bahkan mereka lebih hafal rumahnya di jannah
daripada rumahnya di dunia. Nabi bersabda,


"
Demi
yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh seseorang lebih hafal
terhadap rumahnya di jannah daripada rumahnya di dunia." (HR.
al-Bukhârî)


Apa Unggulan Amal Kita?

Sudah
sepantasnya kita mengaca diri, adakah kita memiliki satu amalan yang
menonjol sehingga bisa kita andalkan kelak di Hari Akhir? Rejeki amal
seperti layaknya rejeki harta. Allah membagi dari berbagai pintu,
dengan kapasitas yang bermacam-macam pula. Seperti yang dikatakan Imam
malik, "Sesungguhnya Allah membagi amal sebagaiamama membagi rejeki." Maka kita lihat, apakah semua amal kita hanya biasa-biasa saja, tak ada yang menonjol, atau bahkan semua masih di bawah standar? Jika ada yang menonjol, hendaknya kita jaga dan tingkatkan. Bisa jadi, dari pintu itulah kita akan dipanggil di jannah. Allâhumma innî as-aluKal-jannah, wa a’ûdzubi-Ka minan-Nâr. Âmîn. ( dari majalah Ar-risalah 2006) 

Menerbitkan Karya Sendiri, Kenapa Tidak?

September 24th, 2006 by kacabaca

Prod
(GUS MUH)

DI SUATU malam yang bingar, Puthut EA berceloteh panjang lebar. Puthut
EA adalah seorang penulis fiksi masa depan asal Yogyakarta. Saya tak
tahu, malam itu ia mabuk berat atau sedang kumat gilanya. Tawanya
sungguh berderai-derai disertai dengan tubuh tambunnya yang bergerak
dan perutnya yang bulat mengombak-ombak menahan tawa tergeli-geli.
Beberapa kali harus berguling-guling di lantai berkarpet merah tua oleh
sebab bahakan tawa yang tak tertahankan.

Dan malam itu ia sedang berceloteh tentang kematian penerbit.

“Sebentar lagi, mampuslah kalian para penerbit. Ini dia, Puthut EA,
akan membuat sebuah naskah besar. Dan naskah itu akan saya terbitkan
sendiri. Sampulnya saya kasih kawan membuatnya. Pemasaran saya serahkan
semuanya kepada distributor dengan sistem Giro (Bilyet Giro-red).
Tinggal nunggu empat bulan sampai dana cash cair. Nah, sambil nunggu
itu saya mempersiapkan naskah baru.

“Dan mati konyol kalian penerbit, nggak dapat naskah. Akan saya
umumkan semua ini kepada penulis-penulis Indonesia bahwa saatnya tidak
menyerahkan naskahnya kepada penerbit. Ada cara yang jitu untuk
menerbitkan sendiri karya. Tinggal buat naskah pracetak dan nggak usah
direpotkan oleh distribusi dan royalti aman. Huahuahahahahahaha.
Huahahahahahaha. Dan sebentar lagi penerbit akan kurus kering. Nggak
dapat naskah dari penulis. Huahahahahahahahaha.”

Anggapan saya malam itu, Puthut memang sedang kumat dan ditambah
oleh cekikan minuman beralkohol berkadar tinggi. Tapi kata-katanya itu
sungguh cerdas. Dan memang, kerap otaknya memang encer kalau sedang
mabuk. Betapa tidak, idenya itu lho sungguh brilian dan menggelitik,
yakni ingin menerbitkan karya sendiri. Gagasan asing dan agak jauh dari
riwayat pemikiran penulis sebelumnya bahkan hingga kini.

Selama ini penulis sudah terkotak dengan pemikiran bahwa untuk bisa
lahir naskahnya menjadi buku perlu bantuan penerbit (mapan). Dan untuk
itu menjadi pemandangan yang lazim bila penulis harus menenteng
karyanya dan masuk dari satu pintu penerbit ke pintu penerbit lain
untuk menjajakan naskahnya. Dan kalaupun diterima harus menunggu daftar
panjang penjadwalan untuk sampai pada giliran terbit. Dan kalaupun
sudah dicetak dan disebar ke toko-toko buku, masih dipusingkan dengan
royalti yang dikemplang dan sang penulis akan keluar masuk lagi ke
pintu penerbit untuk menagih. Pun bila bukunya sudah terjual di pasar,
penulis tak langsung bisa mencicipi semua royaltinya, melainkan royalti
itu akan dicicil dan diteteskan oleh penerbit secuil demi secuil.
Bahkan banyak betul penerbit partikelir yang tak mau melapor dan
membayar royalti kalau tidak ditagih secara ekstra rajin dengan muka
ditebal-tebalkan.

Menerbitkan karya sendiri adalah satu cara dan terobosan baru untuk
menghindari tetek bengek seperti itu. Umumnya yang dikeluhkan oleh
penulis adalah modal awal cetak dan distribusi buku. Sungguh
mendistribusikan buku sendiri adalah pekerjaan yang mutlak sibuk dan
sedikit demi sedikit akan menggerus praktik menulis yang sudah dibangun
sedemikian rupa dan dijaga kontinuitasnya. Tapi bukankah menagih
royalti kepada penerbit nakal juga menguras tenaga dan bisa jadi
membangkrutkan imajinasi dan marah-marah tak keruan juntrung. Apalagi
bila tahu ditipu habis-habisan oleh penerbit?

Untuk soal modal awal cetak, barangkali cara klasik yang bisa
dilakukan adalah dengan cara membongkar tabungan pribadi—kalau memang
tabungan itu ada dan cukup tersedia. Katakanlah, untuk buku yang
tebalnya hanya 200 halaman, penulis mengeluarkan dana produksi sebesar
4 jutaan rupiah. Tak terlalu besar bukan? Tapi kalau itu masih
memberatkan, jangan khawatir ada cara lain, yakni bekerjasama dengan
pihak distributor untuk mendanai dan mereka yang akan menalangi dana
awal produksi. Carilah distributor itu. Biasanya ada dua cara yag
dilakukan distributor. Kalau mereka memiliki dana cashflow yang
mencukupi, mereka akan menyerahkan dana tunai kepada kita. Tapi bila
dana cashflow itu tak ada, maka sistem yang diberikan adalah dengan
pembayaran tunda sekian bulan yang biasa memakai transaksi kertas
Bilyet Giro. Dan ada percetakan yang mau dibayar dengan sistem seperti
ini. Dengan catatan tentu saja: distributor yang bersangkutan yang akan
menjadi distributor tunggal. Di beberapa kota, terutama sekali di
Yogyakarta, beberapa distributor buku mau dan berendah hati menalangi
dana-dana taktis awal seperti ini.

Yang hanya kita lakukan setelah buku usai dituliskan adalah membuat
pracetak. Mulai dari pengeditan, desain isi, desain sampul, koreksi,
dan proofreading. Ada lagi, kalau ingin sedikit sibuk: mencari
percetakan yang murah meriah, membuat separasi film untuk sampul dan
menyerahkannya ke percetakan sampul, mencetak plate untuk isi, dan
seterusnya.

Kalau tak ingin repot, ya sudah serahkan saja semuanya kepada
percetakan. Yang perlu disiapkan hanyalah naskah dan desain sampul yang
sudah dalam bentuk film reparasi. Dan percetakan yang akan melakukan
tugasnya sampai selesai. Tinggal ongkang-ongkang kaki sampai tiba
saatnya percetakan memberitahu bahwa buku selesai cetak dan kita
membawanya ke distributor dan membuat faktur tanda terima penjualan.
Selesai. Tinggal kita menunggu buku kita berbaur dengan buku yang lain
di rak-rak toko buku untuk berjuang merebut hati dan gapaian tangan
pembeli untuk merogoh dompetnya. Sambil menunggu perjuangan buku
tersebut merebut hati pembeli di rak-rak toko buku, bolehlah sang
penulis lenyap untuk sementara waktu sekian bulan dalam rangka menulis
buku berikutnya.

Tapi satu catatan: sistem Bilyet Giro juga bukannya bebas risiko.
Jika tak laku pihak distributor mengembalikan buku kepada sang penulis.
Bila sejumlah dana yang tertera dalam kertas giro sudah cair, maka
penulis berhak menggantinya. Dan biasanya dengan buku baru. Tapi itu
tergantung perjanjian awal di atas kertas bersegel antara penulis dan
penerbit. Tapi begitulah, bukan usaha namanya kalau bebas dari risiko.
Bukankah semua usaha dan kerja memendam risikonya masing-masing? Jadi
hadapi saja.

Seperti saya katakan tadi, jika buku yang bersangkutan tidak
dibiayai oleh distributor tapi dari kantong penulis sendiri, maka sang
penulis berhak memberikannya kepada distributor yang disukai dan
dipercayai. Jadi bukan memakai jalur distributor tunggal. Bebas. Tapi
ada satu risiko yang akan ditanggung oleh penulis sekiranya buku di
pasaran tidak laku. Yakni, distributor yang bersangkutan berhak
mengembalikan buku kepada penerbit yang dalam hal ini penulis sendiri.
Tapi kalau yakin bahwa buku Anda pasti habis sekian bulan, maka bisa
mencari alternatif distributor lain yang tidak memakai sistem Bilyet
Giro. Yakni dengan sistem konsinyasi (titip barang: yang laku dibayar.
Jika tidak barang kembali kepada si penitip) dengan persentase rabat
yang mereka ambil jauh lebih kecil dibandingkan dengan distributor yang
memakai sistem Giro. Dengan sistem konsinyasi, Anda hanya menunggu
laporan setiap bulannya berapa buku Anda laku. Dengan sistem ini, stok
dana sang penulis akan mengalir terus setiap bulannya.

Dengan memilih menerbitkan sendiri, dengan meluangkan waktu sebulan
untuk sibuk mengurus percetakan buku, tentu bukan jadi masalah yang
sungguh memberatkan, bukan? Niatkan saja, bahwa buku itu adalah bakal
bayi Anda, dan Anda sebagai orangtua sang bayi bertanggung jawab
mengurus sendiri persalinannya hingga nongol ke dunia secara sehat dan
sempurna hingga masa penyapihan datang. Dan Anda berbesar hati
merelakan waktu untuk melihat buku itu terbit dengan/dan tanpa harus
menanti nomor urut yang panjang dari penerbit.

Bagaimana, cukup menantang bukan? Tak ada salahnya bila dicoba!

Tipe (Menjadi) Pembaca

September 24th, 2006 by kacabaca

Baca

Menjadi pembaca
adalah menjadi (1) seorang penjelajah di samudera pengetahuan tanpa
batas; (2) peserta karnaval yang riuh; juga (3) seorang penulis yang
tangguh dan sekaligus cerewet.

Pembaca adalah penjelajah. Sebagai seorang penjelajah, pembaca
adalah perenang dan pejalan yang bebas. Kisah berikut ini adalah kisah
seorang yang masih sangat belia dan tinggal bersama kakeknya.
Satu-satunya hiburan yang menarik di rumah itu—atau tepatnya
apartemen—adalah buku dan perpustakaan. Dan inilah petikan kekagumannya
ketika berada di tengah perpustakaan yang dilingkari deretan buku. Lalu
ia coba mengeja baris-baris huruf. Belajar memahami keterkaitan makna
dalam kalimat. Belajar membaca. Lalu tak disadarinya ia telah tertarik
dalam arus cerita yang terpantul dari setiap helai halaman buku. Lalu
terlarut dalam pengembaraan tanpa batas.

“Lalu aku cemburu terhadap Mama dan memutuskan merampas peranannya.
Aku mengambil sebuah buku berjudul Trubulations d’un Chinois en Chine
(Petualangan Seorang Cina di Negerinya Sendiri). Aku bawa buku itu ke
gudang; dan di situ, bertengger di atas sebuah tempat tidur besi, aku
pura-pura membaca: aku mengikuti dengan mata urutan garis-garis hitam
tanpa melewatkan satu pun dan mengisahkan sebuah cerita kepada diriku
sendiri dengan suara keras dan menekankan suku kata satu per satu. Aku
tertangkap basah—berbuat sedemikian rupa supaya tertangkap—orang-orang
jadi ribut, dan akhirnya diputuskan bahwa sudah waktunya aku diajari
membaca. Aku belajar dengan tekun, tak beda seperti semangat katekumen,
sampai-sampai aku memberi les pribadi kepada diri sendiri: kunaiki
tempat tidur besi dengan buku Sans Famille (Sebatang Kara) karya Hector
Malot, yang sudah kuhapal isinya, lalu, setengah bergumam setengah
membaca, kubolak-balikkan halaman satu demi satu. Ketika halaman
terakhir sudah habis, aku sudah bisa membaca.

“Aku senang sekali: kini giliranku untuk mendengarkan suara serak
keluar dari buku-buku itu, suara yang oleh kakek bisa dihidupkan
kembali dengan lirikan mata. Dibiarkannya aku menggelandang di
perpustakaan dan aku mulai menaklukkan hasil pengetahuan manusia.
Perpustakaan laksana dunia yang terjerat dalam cermin; tebalnya tak
terhingga, beraneka, juga tak terduga. Aku terjun dalam petualangan
yang luar biasa: menaiki kursi, meja, meski dengan risiko membuat semua
roboh jatuh di atasku. Buku-buku di rak paling atas lama di luar
jangkauanku. Ada buku lain, baru ketemukan, yang dengan mudah dapat
kuambil; tetapi ada juga yang bersembunyi: yang ini pernah kuambil,
bahkan mulai kubaca, dan aku yakin sudah kukembalikan, tapi nyatanya
aku perlu waktu seminggu untuk menemukannya kembali. Ada
penemuan-penemuan mengerikan: kubuka buku tebal, tahu-tahu halaman
berwarnanya kudapati penuh dikerubuti serangga-serangga memualkan.
Berbaring di permadani, kulakukan perjalanan-perjalanan yang berat ke
tengah karya-karya Fontenelle, Aristophanus, dan Rabelais:
kalimat-kalimat berkutat di hadapanku seperti benda-benda hidup; mereka
harus kuamati; aku mengelilinginya, pura-pura kujauhi dan tiba-tiba
kembali agar bisa mengagetkan mereka di saat lengah: pada umumnya
kalimat-kalimat itu tidak membuka rahasia dirinya….

“Melalui buku demi buku, aku menemukan kembali kehidupan serta
‘kegilaan’. Cukup dengan membuka salah satu buku, aku berhadapan
kembali dengan akal budi tak manusiawi nan gelisah—baik kebesaran
maupun kegelapannya melampaui daya tangkapku—dan yang meloncat-loncat
dari satu gagasan ke gagasan yang laindengan kecepatan demikian tinggi
hingga aku ‘lepas kendali’ seratus kali per halaman, dan membiarkan
naskah berlalu sementara aku merasa pusing kebingungan….

“Dua puluh kali aku membaca halaman-halaman terakhir dari Madame Bovary; akhirnya aku tahu paragrafnya di luar kepala.

“Aku menyadari betul kerasnya buku bertahan, tak pernah mau takluk
begitu saja padaku; aku jadi terperdaya, capai, tetapi amat kunikmati
ambiguitas posisiku: ‘mengerti tetapi tidak mengerti’. Kekekalan dunia
selamanya terletak di situ. Hati nuarani manusia yang kerap dibicarakan
Kakek di rumah kuanggap membosankan dan hampa, kecuali dalam buku-buku.
Nama-nama mengerikan menentukan keadaan batinku, mencemplungkanku ke
dalam ketakutan atau kesenduan tanpa sebab yang kudari sepenuhnya….

“Apakah ini dinamakan membaca? Tidak, aku hanyut dalam ‘ekstase’;
dan begitu terhanyutnya sehingga lahirlah bangsa-bangsa primitif
bersenjata lembing, ‘orang-orang suku’, dan penjelajah bertopi putih….”

Si aku-muda yang memberikan pengakuan tersebut tak lain adalah
Jean-Paul Sartre. Filsuf dan sastrawan asal Prancis. Pengakuannya itu
terscripta dalam Les Mots (Kata-kata, 2000, terjemahan Jean
Couteau)—sebuah karya penutup hayatnya yang sangat indah sebelum
mangkat pada 1980 di usia 75 tahun.

Di sana terterakan bahwa Sartre di usia belianya adalah seorang
pembaca yang tangguh, bookaholic, dan penjelajah di atas rata-rata
kebanyakan orang. Dibukanya semua katup memorinya untuk menampung
pelbagai informasi dari buku: dongeng, khotbah, cerita, kitab-kitab
sastra dari pengarang-pengarang agung yang mulia maupun brengsek,
buku-buku bergambar, dan cerita pilu perpisahan kedua orangtuanya.
Semuanya diserap tanpa pandang bulu.

Begitulah tipe pembaca penjelajah. Sebagai petualang, pembaca
penjelajah tak mudah menampik kehadiran buku lantaran isinya bisa
merusak dirinya. Lantaran buku merusak keyakinan, merampas keimanan
yang sudah baku dan beku dalam hati. Lantaran buku meluruhkan nilai
budaya yang dianut masyarakat sekelilingnya. Pembaca penjelajah tak
pernah bertipe demikian. Pembaca penjelajah adalah pembaca yang sedang
mencari dan berusaha menemukan kebaruan-kebaruan yang ditampilkan
pengarang dalam barisan aksara yang membetuk garis hitam bersaf-saf di
setiap halaman buku. Bahkan tak jarang bila menemukan buku-buku yang
merasuk dalam pedalaman jiwa, tak urung bisa membuatnya ekstase atau
“trance”.

Ya, sebagai penjelajah, pembaca adalah pencari. Pencari kebenaran
yang terbuka dengan apa saja informasi. Menimba kebenaran dari mana
saja kebenaran itu berasal, terutama dari masa silam. Sebab pada
dasarnya spirit buku adalah spirit kontinuitas. Hamburan peristiwa dari
masa ke masa. Dan begitulah, setiap buku yang hadir di setiap momen
pada dasarnya adalah jawaban atas momen-momen yang terjadi sebelumnya.
Dan seorang pembaca penjelajah berusaha sekuat-kuatnya untuk menangkap
apa pun sari dari putaran dan lompatan momen itu. Mencoba-coba
peruntungan diri berada dalam pusarannya. Di sini tiada tampikan, tiada
kegeraman, tiada sensor, tiada pelarangan. Sebab bagi seorang
penjelajah, kemungkinan-kemungkinan terkecil kebenaran selalu ada di
setiap baris dan halaman buku. Sesederhana apa pun itu buku.

Di sini saya bersepakat dengan apa yang ditulis Manneke Budiman
(2004:168), bahwa membaca adalah sesuatu yang membebaskan (liberating),
dan bukan represif. Membaca tidak melontarkan tuntutan-tuntutan dan
mengenakan batasan-batasan, baik pada teks maupun kepada diri sendiri.
Membaca adalaha sebuah proaktif, bukan reaktif. Membaca adalah sebuah
aktivitas budaya yang baik. Dan di mana pun budaya yang baik selalu
membawa pada pencerahan.

Pembaca adalah peserta karnaval. Ketika buku diserahkan penulis
kepada penerbit dan penerbit dengan segenap aparatusnya membantu
persalinannya untuk hadir di tengah publik, maka buku itu—siap atau
tidak siap—berhadapan dengan pembaca yang riuh. Ia bergabung dalam
karnaval yang melintas. Ya, pembaca tak jauh beda dengan karnaval.
Sebuah kerumunan dengan latar belakang pengalaman dan sangu pengetahuan
yang berbeda membaca buku yang hadir di hadapannya. Dan dalam karnaval,
dalam kerumunan yang riuh itu, pembaca memiliki otonomi masing-masing
dalam memperlakukan bacaannya. Mereka adalah keragaman yang saling
sulih, saling meneriaki, saling mencemooh. Dalam karnaval itu,
keragaman suara tak bisa diringkas dalam satu proses menuju sintesis
atau konsensus.

Maka dari itu, dalam karnaval itu berlaku semacam kode etik:
bertindaklah semaumu sampai batas engkau tak mengganggu kebebasan yang
lain. Mengapa? Sebab dalam karnaval berlaku hukum yang disebut hukum
keragaman. Pembaca adalah subjek yang lahir dan besar dari rahim dan
lingkungan permainan yang memang ramai dan hiruk-pikuk; suatu lokasi
menjamur dan berjumpanya pelbagai watak, karakter, pikiran, wacana,
suara, baik suara jalanan, jelata, penyair, seniman, peneguh-peneguh
fanatik, badut, penguasa, maupun agamawan. Dalam karnaval, momen-momen
yang bersifat semantik, bahasa yang konkret dan inderawi, passion, dan
petualangan yang geli maupun yang gila mendapatkan tempat masing-masing.

Di sanalah, meminjam istilah Milan Kundera, novelis asal Ceko,
bertabur semacam semangat ambiguitas. Pembaca terandaikan sebagai
subjek yang penuh warna penuh nuansa, sebagai implikasi dari
satelit-satelit berlakunya relativitas di pusat catur kebenaran.
Keberadaan pembaca sebagai subjek ambigu serupa dengan poliponi dalam
warna nada musik. Poliponi dalam musik adalah presentasi beriringan
dari dua suara atau lebih (lajur melodis) yang terkumpul sempurna namun
masih memiliki kebebasan relatif. Jadi, prinsip utama pembaca sebagai
peserta karnaval atau poliponik adalah keseimbangan suara. Tak ada
sebuah suara yang dominan, tak ada yang bertindak sebagai iringan.
Semuanya sejalan. Sama-sama memiliki hak bersuara dalam seperjalanan
dan seperiringan. Dalam momen karnaval.

Maka membaca dalam momen karnaval adalah membaca tanpa larangan
tanpa ketakutan akan direpresi oleh kekuatan aparatus di luar teks.
Sungguh sebuah perayaan akbar akan pencarian makna. Sebagaimana
tertutur lantang dalam Catatan Harian Ahmad Wahib; sebagaimana tertetak
lirih meluruhkan hati dalam Catatan Harian Anne Frank.

Pembaca adalah “penulis sejati”. Pembaca juga adalah seorang penulis
yang tangguh. Bahkan, dalam asumsi yang ekstrem, seorang pembaca secara
fungsional bisa menggantikan kedudukan dan otonomi penulis. Merekalah
yang sebetulnya penulis sejati. “Kelahiran pembaca selalu diimbangi
oleh kematian sang pengarang,” tandas Roland Barthes. Roland Barthes
adalah bule dan kritisi sastra ternama asal Prancis. Kehadiran sosoknya
bersamaan dengan menguatnya arus pemikiran pascamodernisme
(pascastrukturalisme). Sebuah era di mana siapa pun tak kebal kritik.
Semua bisa dibongkar dan didekonstruksi. Tak ada individu yang
“sempurna”. “Kematian” manusia telah dimaklumkan. Otonomi individu pun
(di)ambruk(kan).

Dan Barthes dikenal sebagai salah satu perongrong kewibawaan dan
otoritas agung pengarang. Lihat saja komentarnya yang tandas itu.
“Kelahiran pembaca selalu diimbangi kematian sang pengarang.”

Kesimpulan itu diambilnya mungkin saja bermula dari keyakinannya
akan otonomi bahasa dan selanjutnya pembaca. Menurutnya, penguasa di
jagat aksara sesungguhnya bukan pengarang, melainkan bahasa. Bahasa,
oleh olok-olok karya brutal sejenis surealisme sekalipun, kedaulatannya
tetap tak akan goyah. Bagi Barthes, bagaimana mungkin kita bisa
mengeramatkan pengarang, padahal tulisan yang dihasilkan pengarang tak
pernah ada satu pun yang orisinal. Teks adalah satu tenunan dari
kutipan yang berasal dari ribuan sumber budaya.

Tesis Barthes itu diamini koleganya, Michel Foucault, filsuf
berkepala plontos dan berkacamata persegi asal Prancis, yang mengatakan
bahwa mengarang merupakan persoalan menciptakan ruang untuk tempat
subjek di mana subjek yang mengarang itu terus menerus melenyapkan diri.

Dalam konteks ini sebetulnya, bedah buku, kalau kita mengambilnya
sebagai amsal, menjadi ritual acara yang sangat mengerikan. Sebab bedah
buku tak ubahnya ritual pemanggilan arwah sang pengarang yang jasadnya
telah berkalang tanah. Publik menggali kuburan dan memaksakan sang
pengarang yang telah menjadi arwah untuk hadir dan ditonton. Bagi
Barthes dan orang-orang yang sepakat dengan filsafat “kematian
pengarang dan abadinya pembaca” peristiwa penghadiran pengarang,
pemanggilan kembali arwah pengarang ke ruang publik setelah proses
kematian saat pelahiran karya, adalah peristiwa mistis yang sukar di
terima nalar sehat. Bagaimana mungkin seorang penulis (tatkala karyanya
lahir saat itu juga ia langsung dicekik ajal) dihadirkan untuk
didengarkan kesaksian dan otoritasnya, padahal penulis yang sejati
adalah pembaca yang oleh karena rezim kelaziman kerap hanya menjadi
pendengar yang pasif.

Sekilas, apa yang dikemukakan Barthes dan Foucault tersebut adalah
ironi. Sebab dalam pikiran (sosial) yang sudah baku, mestinya pengarang
atau penulislah yang memiliki otonomi, memiliki otoritas untuk dikagumi
dan diberi penghormatan. Lihat saja, hampir tak ada penghargaan yang
layak untuk pembaca. Lho, bagaimana dengan pembaca cerita pendek atau
orang lain baca puisi yang bukan karangannya sendiri? Kan mereka juga
mendapat penghargaan? Seperti Mas Landung Simatupang itu lho? Ya,
pastilah ada penghargaan dan penghormatan itu. Namun paling banter
penghormatan itu hanya berhenti di malam pemanggungan itu. Penulisnya?
Ia akan tetap dikenang-kenang, dipuji-puji, dijadikan idola. Menjadi
“dewa kecil”.

Bagi kita, mungkin lontaran Barthes lalu digarami Foucault itu
terlalu ekstrem dan berlebihan. Tapi yakinlah bahwa
pernyataan-pernyataan Barthes di atas memberi secuil ruang partisipasi
kepada pembaca. Dalam arti, mereka ingin menegaskan jangan lupakan
pembaca! Ketiadaan pembaca adalah “kematian” (nama) penulis. Walaupun
tidak mendapatkan penghargaan nominal, dalam kancah sosial, pembaca
memiliki kedudukan yang sungguh signifikan. Sebagaimana kedudukan
rakyat jelata yang berdaulat dengan kedudukan presiden. Tanpa rakyat,
eh pembaca, presiden atau penulis tak akan mungkin muncul dan
mendapatkan nama di strata sosial masyarakat.

Ada atau tidak adanya nama penulis, pembacalah yang menentukan.
Kalaupun sepenggal nama penulis hadir, itu tak lain adalah imbalan.
Kalau seorang penulis memberi hasil kerjanya untuk dianalisis dan
dibaca oleh pembaca dan mereka suka serta menerimanya, nama seorang
penulis akan mendapat tempat di selingkungan mereka. Jadi, nama penulis
merupakan produk dari pergulatan pembaca dalam karnaval sosial.

Namun tak jarang kita melupakan prinsip fungsional ini, sebagaimana
yang terjadi di dunia politik di mana rakyat memiliki otonomi dan
kedaulatan justru diinjak-injak dan dilupakan oleh penguasa yang
notabene adalah pelayannya sendiri dalam peta fungsi kuasa. Di dunia
pembaca hal serupa juga terjadi. Kerap pembaca dipandang tidak lebih
hanya sebelah mata (yang sebelah terbuka itu merem lagi). Sekadar
pelengkap penderita, pemamah, dan sekaligus objek penjualan buku. Tak
lebih.