Menjadi pembaca
adalah menjadi (1) seorang penjelajah di samudera pengetahuan tanpa
batas; (2) peserta karnaval yang riuh; juga (3) seorang penulis yang
tangguh dan sekaligus cerewet.
Pembaca adalah penjelajah. Sebagai seorang penjelajah, pembaca
adalah perenang dan pejalan yang bebas. Kisah berikut ini adalah kisah
seorang yang masih sangat belia dan tinggal bersama kakeknya.
Satu-satunya hiburan yang menarik di rumah itu—atau tepatnya
apartemen—adalah buku dan perpustakaan. Dan inilah petikan kekagumannya
ketika berada di tengah perpustakaan yang dilingkari deretan buku. Lalu
ia coba mengeja baris-baris huruf. Belajar memahami keterkaitan makna
dalam kalimat. Belajar membaca. Lalu tak disadarinya ia telah tertarik
dalam arus cerita yang terpantul dari setiap helai halaman buku. Lalu
terlarut dalam pengembaraan tanpa batas.
“Lalu aku cemburu terhadap Mama dan memutuskan merampas peranannya.
Aku mengambil sebuah buku berjudul Trubulations d’un Chinois en Chine
(Petualangan Seorang Cina di Negerinya Sendiri). Aku bawa buku itu ke
gudang; dan di situ, bertengger di atas sebuah tempat tidur besi, aku
pura-pura membaca: aku mengikuti dengan mata urutan garis-garis hitam
tanpa melewatkan satu pun dan mengisahkan sebuah cerita kepada diriku
sendiri dengan suara keras dan menekankan suku kata satu per satu. Aku
tertangkap basah—berbuat sedemikian rupa supaya tertangkap—orang-orang
jadi ribut, dan akhirnya diputuskan bahwa sudah waktunya aku diajari
membaca. Aku belajar dengan tekun, tak beda seperti semangat katekumen,
sampai-sampai aku memberi les pribadi kepada diri sendiri: kunaiki
tempat tidur besi dengan buku Sans Famille (Sebatang Kara) karya Hector
Malot, yang sudah kuhapal isinya, lalu, setengah bergumam setengah
membaca, kubolak-balikkan halaman satu demi satu. Ketika halaman
terakhir sudah habis, aku sudah bisa membaca.
“Aku senang sekali: kini giliranku untuk mendengarkan suara serak
keluar dari buku-buku itu, suara yang oleh kakek bisa dihidupkan
kembali dengan lirikan mata. Dibiarkannya aku menggelandang di
perpustakaan dan aku mulai menaklukkan hasil pengetahuan manusia.
Perpustakaan laksana dunia yang terjerat dalam cermin; tebalnya tak
terhingga, beraneka, juga tak terduga. Aku terjun dalam petualangan
yang luar biasa: menaiki kursi, meja, meski dengan risiko membuat semua
roboh jatuh di atasku. Buku-buku di rak paling atas lama di luar
jangkauanku. Ada buku lain, baru ketemukan, yang dengan mudah dapat
kuambil; tetapi ada juga yang bersembunyi: yang ini pernah kuambil,
bahkan mulai kubaca, dan aku yakin sudah kukembalikan, tapi nyatanya
aku perlu waktu seminggu untuk menemukannya kembali. Ada
penemuan-penemuan mengerikan: kubuka buku tebal, tahu-tahu halaman
berwarnanya kudapati penuh dikerubuti serangga-serangga memualkan.
Berbaring di permadani, kulakukan perjalanan-perjalanan yang berat ke
tengah karya-karya Fontenelle, Aristophanus, dan Rabelais:
kalimat-kalimat berkutat di hadapanku seperti benda-benda hidup; mereka
harus kuamati; aku mengelilinginya, pura-pura kujauhi dan tiba-tiba
kembali agar bisa mengagetkan mereka di saat lengah: pada umumnya
kalimat-kalimat itu tidak membuka rahasia dirinya….
“Melalui buku demi buku, aku menemukan kembali kehidupan serta
‘kegilaan’. Cukup dengan membuka salah satu buku, aku berhadapan
kembali dengan akal budi tak manusiawi nan gelisah—baik kebesaran
maupun kegelapannya melampaui daya tangkapku—dan yang meloncat-loncat
dari satu gagasan ke gagasan yang laindengan kecepatan demikian tinggi
hingga aku ‘lepas kendali’ seratus kali per halaman, dan membiarkan
naskah berlalu sementara aku merasa pusing kebingungan….
“Dua puluh kali aku membaca halaman-halaman terakhir dari Madame Bovary; akhirnya aku tahu paragrafnya di luar kepala.
“Aku menyadari betul kerasnya buku bertahan, tak pernah mau takluk
begitu saja padaku; aku jadi terperdaya, capai, tetapi amat kunikmati
ambiguitas posisiku: ‘mengerti tetapi tidak mengerti’. Kekekalan dunia
selamanya terletak di situ. Hati nuarani manusia yang kerap dibicarakan
Kakek di rumah kuanggap membosankan dan hampa, kecuali dalam buku-buku.
Nama-nama mengerikan menentukan keadaan batinku, mencemplungkanku ke
dalam ketakutan atau kesenduan tanpa sebab yang kudari sepenuhnya….
“Apakah ini dinamakan membaca? Tidak, aku hanyut dalam ‘ekstase’;
dan begitu terhanyutnya sehingga lahirlah bangsa-bangsa primitif
bersenjata lembing, ‘orang-orang suku’, dan penjelajah bertopi putih….”
Si aku-muda yang memberikan pengakuan tersebut tak lain adalah
Jean-Paul Sartre. Filsuf dan sastrawan asal Prancis. Pengakuannya itu
terscripta dalam Les Mots (Kata-kata, 2000, terjemahan Jean
Couteau)—sebuah karya penutup hayatnya yang sangat indah sebelum
mangkat pada 1980 di usia 75 tahun.
Di sana terterakan bahwa Sartre di usia belianya adalah seorang
pembaca yang tangguh, bookaholic, dan penjelajah di atas rata-rata
kebanyakan orang. Dibukanya semua katup memorinya untuk menampung
pelbagai informasi dari buku: dongeng, khotbah, cerita, kitab-kitab
sastra dari pengarang-pengarang agung yang mulia maupun brengsek,
buku-buku bergambar, dan cerita pilu perpisahan kedua orangtuanya.
Semuanya diserap tanpa pandang bulu.
Begitulah tipe pembaca penjelajah. Sebagai petualang, pembaca
penjelajah tak mudah menampik kehadiran buku lantaran isinya bisa
merusak dirinya. Lantaran buku merusak keyakinan, merampas keimanan
yang sudah baku dan beku dalam hati. Lantaran buku meluruhkan nilai
budaya yang dianut masyarakat sekelilingnya. Pembaca penjelajah tak
pernah bertipe demikian. Pembaca penjelajah adalah pembaca yang sedang
mencari dan berusaha menemukan kebaruan-kebaruan yang ditampilkan
pengarang dalam barisan aksara yang membetuk garis hitam bersaf-saf di
setiap halaman buku. Bahkan tak jarang bila menemukan buku-buku yang
merasuk dalam pedalaman jiwa, tak urung bisa membuatnya ekstase atau
“trance”.
Ya, sebagai penjelajah, pembaca adalah pencari. Pencari kebenaran
yang terbuka dengan apa saja informasi. Menimba kebenaran dari mana
saja kebenaran itu berasal, terutama dari masa silam. Sebab pada
dasarnya spirit buku adalah spirit kontinuitas. Hamburan peristiwa dari
masa ke masa. Dan begitulah, setiap buku yang hadir di setiap momen
pada dasarnya adalah jawaban atas momen-momen yang terjadi sebelumnya.
Dan seorang pembaca penjelajah berusaha sekuat-kuatnya untuk menangkap
apa pun sari dari putaran dan lompatan momen itu. Mencoba-coba
peruntungan diri berada dalam pusarannya. Di sini tiada tampikan, tiada
kegeraman, tiada sensor, tiada pelarangan. Sebab bagi seorang
penjelajah, kemungkinan-kemungkinan terkecil kebenaran selalu ada di
setiap baris dan halaman buku. Sesederhana apa pun itu buku.
Di sini saya bersepakat dengan apa yang ditulis Manneke Budiman
(2004:168), bahwa membaca adalah sesuatu yang membebaskan (liberating),
dan bukan represif. Membaca tidak melontarkan tuntutan-tuntutan dan
mengenakan batasan-batasan, baik pada teks maupun kepada diri sendiri.
Membaca adalaha sebuah proaktif, bukan reaktif. Membaca adalah sebuah
aktivitas budaya yang baik. Dan di mana pun budaya yang baik selalu
membawa pada pencerahan.
Pembaca adalah peserta karnaval. Ketika buku diserahkan penulis
kepada penerbit dan penerbit dengan segenap aparatusnya membantu
persalinannya untuk hadir di tengah publik, maka buku itu—siap atau
tidak siap—berhadapan dengan pembaca yang riuh. Ia bergabung dalam
karnaval yang melintas. Ya, pembaca tak jauh beda dengan karnaval.
Sebuah kerumunan dengan latar belakang pengalaman dan sangu pengetahuan
yang berbeda membaca buku yang hadir di hadapannya. Dan dalam karnaval,
dalam kerumunan yang riuh itu, pembaca memiliki otonomi masing-masing
dalam memperlakukan bacaannya. Mereka adalah keragaman yang saling
sulih, saling meneriaki, saling mencemooh. Dalam karnaval itu,
keragaman suara tak bisa diringkas dalam satu proses menuju sintesis
atau konsensus.
Maka dari itu, dalam karnaval itu berlaku semacam kode etik:
bertindaklah semaumu sampai batas engkau tak mengganggu kebebasan yang
lain. Mengapa? Sebab dalam karnaval berlaku hukum yang disebut hukum
keragaman. Pembaca adalah subjek yang lahir dan besar dari rahim dan
lingkungan permainan yang memang ramai dan hiruk-pikuk; suatu lokasi
menjamur dan berjumpanya pelbagai watak, karakter, pikiran, wacana,
suara, baik suara jalanan, jelata, penyair, seniman, peneguh-peneguh
fanatik, badut, penguasa, maupun agamawan. Dalam karnaval, momen-momen
yang bersifat semantik, bahasa yang konkret dan inderawi, passion, dan
petualangan yang geli maupun yang gila mendapatkan tempat masing-masing.
Di sanalah, meminjam istilah Milan Kundera, novelis asal Ceko,
bertabur semacam semangat ambiguitas. Pembaca terandaikan sebagai
subjek yang penuh warna penuh nuansa, sebagai implikasi dari
satelit-satelit berlakunya relativitas di pusat catur kebenaran.
Keberadaan pembaca sebagai subjek ambigu serupa dengan poliponi dalam
warna nada musik. Poliponi dalam musik adalah presentasi beriringan
dari dua suara atau lebih (lajur melodis) yang terkumpul sempurna namun
masih memiliki kebebasan relatif. Jadi, prinsip utama pembaca sebagai
peserta karnaval atau poliponik adalah keseimbangan suara. Tak ada
sebuah suara yang dominan, tak ada yang bertindak sebagai iringan.
Semuanya sejalan. Sama-sama memiliki hak bersuara dalam seperjalanan
dan seperiringan. Dalam momen karnaval.
Maka membaca dalam momen karnaval adalah membaca tanpa larangan
tanpa ketakutan akan direpresi oleh kekuatan aparatus di luar teks.
Sungguh sebuah perayaan akbar akan pencarian makna. Sebagaimana
tertutur lantang dalam Catatan Harian Ahmad Wahib; sebagaimana tertetak
lirih meluruhkan hati dalam Catatan Harian Anne Frank.
Pembaca adalah “penulis sejati”. Pembaca juga adalah seorang penulis
yang tangguh. Bahkan, dalam asumsi yang ekstrem, seorang pembaca secara
fungsional bisa menggantikan kedudukan dan otonomi penulis. Merekalah
yang sebetulnya penulis sejati. “Kelahiran pembaca selalu diimbangi
oleh kematian sang pengarang,” tandas Roland Barthes. Roland Barthes
adalah bule dan kritisi sastra ternama asal Prancis. Kehadiran sosoknya
bersamaan dengan menguatnya arus pemikiran pascamodernisme
(pascastrukturalisme). Sebuah era di mana siapa pun tak kebal kritik.
Semua bisa dibongkar dan didekonstruksi. Tak ada individu yang
“sempurna”. “Kematian” manusia telah dimaklumkan. Otonomi individu pun
(di)ambruk(kan).
Dan Barthes dikenal sebagai salah satu perongrong kewibawaan dan
otoritas agung pengarang. Lihat saja komentarnya yang tandas itu.
“Kelahiran pembaca selalu diimbangi kematian sang pengarang.”
Kesimpulan itu diambilnya mungkin saja bermula dari keyakinannya
akan otonomi bahasa dan selanjutnya pembaca. Menurutnya, penguasa di
jagat aksara sesungguhnya bukan pengarang, melainkan bahasa. Bahasa,
oleh olok-olok karya brutal sejenis surealisme sekalipun, kedaulatannya
tetap tak akan goyah. Bagi Barthes, bagaimana mungkin kita bisa
mengeramatkan pengarang, padahal tulisan yang dihasilkan pengarang tak
pernah ada satu pun yang orisinal. Teks adalah satu tenunan dari
kutipan yang berasal dari ribuan sumber budaya.
Tesis Barthes itu diamini koleganya, Michel Foucault, filsuf
berkepala plontos dan berkacamata persegi asal Prancis, yang mengatakan
bahwa mengarang merupakan persoalan menciptakan ruang untuk tempat
subjek di mana subjek yang mengarang itu terus menerus melenyapkan diri.
Dalam konteks ini sebetulnya, bedah buku, kalau kita mengambilnya
sebagai amsal, menjadi ritual acara yang sangat mengerikan. Sebab bedah
buku tak ubahnya ritual pemanggilan arwah sang pengarang yang jasadnya
telah berkalang tanah. Publik menggali kuburan dan memaksakan sang
pengarang yang telah menjadi arwah untuk hadir dan ditonton. Bagi
Barthes dan orang-orang yang sepakat dengan filsafat “kematian
pengarang dan abadinya pembaca” peristiwa penghadiran pengarang,
pemanggilan kembali arwah pengarang ke ruang publik setelah proses
kematian saat pelahiran karya, adalah peristiwa mistis yang sukar di
terima nalar sehat. Bagaimana mungkin seorang penulis (tatkala karyanya
lahir saat itu juga ia langsung dicekik ajal) dihadirkan untuk
didengarkan kesaksian dan otoritasnya, padahal penulis yang sejati
adalah pembaca yang oleh karena rezim kelaziman kerap hanya menjadi
pendengar yang pasif.
Sekilas, apa yang dikemukakan Barthes dan Foucault tersebut adalah
ironi. Sebab dalam pikiran (sosial) yang sudah baku, mestinya pengarang
atau penulislah yang memiliki otonomi, memiliki otoritas untuk dikagumi
dan diberi penghormatan. Lihat saja, hampir tak ada penghargaan yang
layak untuk pembaca. Lho, bagaimana dengan pembaca cerita pendek atau
orang lain baca puisi yang bukan karangannya sendiri? Kan mereka juga
mendapat penghargaan? Seperti Mas Landung Simatupang itu lho? Ya,
pastilah ada penghargaan dan penghormatan itu. Namun paling banter
penghormatan itu hanya berhenti di malam pemanggungan itu. Penulisnya?
Ia akan tetap dikenang-kenang, dipuji-puji, dijadikan idola. Menjadi
“dewa kecil”.
Bagi kita, mungkin lontaran Barthes lalu digarami Foucault itu
terlalu ekstrem dan berlebihan. Tapi yakinlah bahwa
pernyataan-pernyataan Barthes di atas memberi secuil ruang partisipasi
kepada pembaca. Dalam arti, mereka ingin menegaskan jangan lupakan
pembaca! Ketiadaan pembaca adalah “kematian” (nama) penulis. Walaupun
tidak mendapatkan penghargaan nominal, dalam kancah sosial, pembaca
memiliki kedudukan yang sungguh signifikan. Sebagaimana kedudukan
rakyat jelata yang berdaulat dengan kedudukan presiden. Tanpa rakyat,
eh pembaca, presiden atau penulis tak akan mungkin muncul dan
mendapatkan nama di strata sosial masyarakat.
Ada atau tidak adanya nama penulis, pembacalah yang menentukan.
Kalaupun sepenggal nama penulis hadir, itu tak lain adalah imbalan.
Kalau seorang penulis memberi hasil kerjanya untuk dianalisis dan
dibaca oleh pembaca dan mereka suka serta menerimanya, nama seorang
penulis akan mendapat tempat di selingkungan mereka. Jadi, nama penulis
merupakan produk dari pergulatan pembaca dalam karnaval sosial.
Namun tak jarang kita melupakan prinsip fungsional ini, sebagaimana
yang terjadi di dunia politik di mana rakyat memiliki otonomi dan
kedaulatan justru diinjak-injak dan dilupakan oleh penguasa yang
notabene adalah pelayannya sendiri dalam peta fungsi kuasa. Di dunia
pembaca hal serupa juga terjadi. Kerap pembaca dipandang tidak lebih
hanya sebelah mata (yang sebelah terbuka itu merem lagi). Sekadar
pelengkap penderita, pemamah, dan sekaligus objek penjualan buku. Tak
lebih.